Siapa yang Paling Kita Sayang ?

Alhamdulillah…bersyukur ke hadrat Mu yang Allah..sekali lagi, ana diberi peluang meraih kasih sayangMu…selama ini..diri ini tak pernah sedar bahawa diri ini semakin jauh dari menyangi Mu ya Alah… Ampunkanlah daku ya Allah..La ilahaillah anta..sesungguhnya hambaMu ini selalu menzalimi dirinya sendiri ya Allah..sesungguhnya ampunanMu sangat luas..maka ya Allah..ampunilah aku ya Allah…

*****


Alkisahnya ada sepasang suami isteri yang sudah lama mengimpikan seorang anak..mereka sudah lama mendirikan rumah tangga , umur mereka masing-masing sudah semakin tua..namun mereka tidak pernah henti-henti meminta doa pada Allah, rabb seluruh ‘alam…agar mereka berpeluang menimang anak sendiri seperti pasangan yang lain. Maka dengan takdir Allah s.w.t..Siti Hajar disahkan hamil dan mereka begitu gembira sekali..Nabi Ibrahim yang telah lama menginginkan anak itu sering menemani isterinya dan terlalu sayangkan anaknya itu sehinggakan timbul perasaan cemburu Siti Sarah.

Maka..Bagi sesuatu hikmah yang belum diketahui dan disadari oleh Nabi Ibrahim , Allah s.w.t. telah mewahyukan kepadanya agar keinginan dan permintaan Sarah , isterinya dipenuhi dan agar dijauhkanlah Ismail bersama Hajar, ibunya daripada Sarah, ke suatu tempat. Pada saat itu, Hajar masih dalam keadaan menyusui putranya.Bayangkanlah perasaan seorang bapa yang terlalu cinta pada seorang anak yang telah selama berpuluh-puluh tahun mengharap dan akhirnya dapat jua merasai perasaan seorang bapa..namun kasihnya yang teramat sangat tidak lama dirasainya…Nabi Ibrahim terpaksa berpisah meninggalkan anak kesayangannya itu.

Maka dengan tawakkal kepada Allah ,berangkatlah Nabi Ibrahim meninggalkan rumah membawa Hajar dan Ismail yang diboncengkan di atas untanya tanpa tempat tujuan yang tertentu. Ia hanya berserah diri kepada Allah yang akan memberi arah kepada binatang tunggangannya. Dan berjalanlah unta Nabi Ibrahim dengan tiga hamba Allah yang berada di atas punggungnya keluar kota masuk ke lautan pasir dan padang terbuka di mana terik matahari dengan pedihnya menyengat tubuh dan angin yang kencang menghembur-hamburkan debu-debu pasir.

Nabi Ibrahim kemudian menempatkan Hajar dan Ismail ke sebuah tempat di samping pohon besar. Pada saat itu, di tempat tersebut tidaklah terdapat seorang pun dan tidak pula ada air. Nabi Ibrahim kemudian meninggalkan keduanya beserta geribah yang di dalamnya terdapat kurma, serta bejana yang berisi air.

Ketika Nabi Ibrahim hendak pergi, Hajar mengikuti beliau seraya bertanya, “Wahai Ibrahim, ke manakah engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami padahal di lembah ini tidak terdapat seorang pun dan tidak ada makanan apa pun?”

Hajar mengucapkannya berkali-kali, namun Nabi Ibrahim lansung tidak menghiraukannya.Pilunya hati seorang bapa..seorang suami yang terpaksa meninggalkan anak dan isterinya yang amat disayangi! Tak sanggup untuk menoleh ke belakang menjawab pertanyaan itu. Namun kemudiannya, Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan engkau berbuat ini?” Nabi Ibrahim pun menjawab dengan linangan air matanya, “Iya.” Hajar lalu berkata, “Maka pergilah…sesunggunya Dia tidak akan membiarkan kami sendirian…” Hajar kemudian kembali dengan perasaan sedih sekali.

Di situlah dia ditinggalkan. ‘Di lembah yang tiada padanya sebarang tanaman’.

Kering. Kontang. Yang bertiup hanya angin selatan yang berhawa panas dan berbahang. Dan terbang bersama-sama angin itu pasir-pasir memedihkan mata. Lembah itu nyata tidak subur,bukan sahaja tiada hidupan, sebatang tumbuhan pun sukar kelihatan.

Suaminya hanya menuruti perintah. Perintah dari langit tinggi, yang tentunya tidak akan dia persoalkan.Di daerah Tsaniah, ketika sosok beliau hilang dari pandangan keluarga yang beliau tinggalkan, Nabi Ibrahim berdoa,

“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Padang pasir

Ketika persedian air mereka habis, Hajar pun mencari air untuk dia dan putranya. Dia pergi ke bukit Shafa, mencari-cari adakah orang di sana, namun dia tidak menemukan siapa pun di sana.

Hajar pun kemudian pergi ke Marwah dan mencari-cari orang pula di sana. Dia juga tidak mendapati seorang pun.

Hajar berulang-ulang pergi dari Shafa ke Marwah, sebaliknya dari Marwah ke Shafa sampai tujuh kali. Oleh karena itu, di dalam ibadah haji ada yang namanya Sai, yaitu berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwa dan sebaliknya sampai tujuh kali.

Diriwayatkan bahawa selagi Hajar berada dalam keadaan tidak berdaya dan hampir berputus asa kecuali dari rahmat Allah dan pertolongan-Nya datanglah kepadanya malaikat Jibril bertanya:” Siapakah sebenarnya engkau ini?” ” Aku adalah hamba sahaya Ibrahim”. Jawab Hajar.” Kepada siapa engkau dititipkan di sini?”tanya Jibril.” Hanya kepad Allah”,jawab Hajar.Lalu berkata Jibril:” Jika demikian, maka engkau telah dititipkan kepada Dzat Yang Maha Pemurah Lagi Maha Pengasih, yang akan melindungimu, mencukupi keperluan hidupmu dan tidak akan mensia-siakan kepercayaan ayah puteramu kepada-Nya.”

Kemudian diajaklah Hajar mengikuti-nya pergi ke suatu tempat di mana Jibril menginjakkan telapak kakinya kuat-kuat di atas tanah dan segeralah memancur dari bekas telapak kaki itu air yang jernih dengan kuasa Allah .Itulah dia mata air Zamzam yang sehingga kini dianggap keramat oleh jemaah haji, berdesakan sekelilingnya bagi mendapatkan setitik atau seteguk air daripadanya dan kerana sejarahnya mata air itu disebut orang ” Injakan Jibril “.

Alngkah gembiranya dan lega dada Hajar melihat air yang mancur itu. Segera ia membasahi bibir puteranya dengan air keramat itu dan segera pula terlihat wajah puteranya segar kembali, demikian pula wajah si ibu yang merasa sgt bahagia dengan datangnya mukjizat dari sisi Tuhan yang mengembalikan kesegaran hidup kepadanya dan kepada puteranya sesudah dibayang-bayangi oleh bayangan mati kelaparan yang mencekam dada.

* * * * *

Masa berlalu dan si anak membesar,menjadi kanak-kanak.

Pada masa itu, muncul semula ayahnya. ya..itulah seorang bapa yang pernah meninggalkan ibunya ketika si kanak-kanak masih dalam susuan ibunya. Di saat itu anaknya memanggil ” Ayah!! Ayah!!!” Bayangkanlah betapa sayangnya si ayah kepada anaknya yang sudah lama ditinggalkannya. Tentunya kasih sayang itu tak dapat dibayangkan.

Si anak memang tidak pernah mengenal ayahnya. Sedangkan melihat dia tak pernah, inikan pula bercakap mesra dengan ayahnya. Dia anak yang tidak berayah awalnya. Tidak pernah merasai pula kewujudan seorang lelaki dewasa di dalam keluarga. Hanya si ibu yang bersama dengannya.

Suatu pagi si ayah datang kepada anaknya. Riak muka tampak risau. Datang bercakap dengan anaknya, yang baru sahaja dikenali dan ditatapinya. Belum pun sempat bermain bermesra sepuasnya, Nabi Ibrahim a.s. mendapat mimpi bahwa ia harus menyembelih Ismail puteranya. Ia terduduk sejurus termenung memikirkan ujian yang maha berat yang ia hadapi. Sebagai seorang ayah yang dikurniai seorang putera yang sejak puluhan tahun diharap-harapkan dan didambakan ,seorang putera yang telah mencapai usia di mana jasa-jasanya sudah dapat dimanfaatkan oleh si ayah , seorang putera yang diharapkan menjadi pewarisnya dan penyampung kelangsungan keturunannya, tiba-tiba harus dijadikan qurban dan harus direnggut nyawa oleh tangan si ayah sendiri.Nabi Ibrahim yang bercucran air mata pada anak yang dikasihinya itu

“Duhai anak, aku melihat di dalam mimpiku, bahawa aku ini diminta Tuhanku menyembelihmu, duhai anak, katakanlah, apa pandanganmu,” Sebak. Memang si ayah sebak.

Nabi Ismail sebagai anak yang soleh yang sgt taat kepada Allah dan bakti kepada orang tuanya, ketika diberitahu oleh ayahnya maksud kedatangannya kali ini tanpa ragu-ragu dan berfikir panjang berkata kepada ayahnya

” Wahai ayahku! Laksanakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Engkau akan menemuiku insya-Allah sebagai seorang yang sabar dan patuh kepada perintah. Aku hanya meminta dalam melaksanakan perintah Allah itu , agar ayah mengikatku kuat-kuat supaya aku tidak banyak bergerak sehingga menyusahkan ayah, kedua agar menanggalkan pakaianku supaya tidak terkena darah yang akan menyebabkan berkurangnya pahalaku dan terharunya ibuku bila melihatnya, ketiga tajamkanlah parangmu dan percepatkanlah perlaksanaan penyembelihan agar menringankan penderitaan dan rasa pedihku, keempat dan yang terakhir sampaikanlah salamku kepada ibuku berikanlah kepadanya pakaian ku ini untuk menjadi penghiburnya dalam kesedihan dan tanda mata serta kenang-kenangan baginya dari putera tunggalnya.”

Kemudian dipeluknyalah Ismail dan dicium pipinya oleh Nabi Ibrahim seraya berkata:” Bahagialah aku mempunyai seorang putera yang taat kepada Allah, bakti kepada orang tua yang dengan ikhlas hati menyerahkan dirinya untuk melaksanakan perintah Allah.”

Beberapa tahun ditinggalkan. Di tanah kontang. Ibunya ditinggalkan kontang, tanpa apa-apa bekalan selain iman. Dia dilahirkan, dia disusukan, dia dibesarkan, susah sekali. Dan ayahnya tidak pernah ada di sisi. Bila si ayah datang tiba-tiba, mengaku pula ayahnya, dia belum pun berkenalan betul dengan si ayah. Setelah semua keperitan itu ditinggalkan ayah kepada dia dan ibunya, kini, minta menyembelih dirinya? Dirinya disembelih ayahnya?

Analoginya cukup mudah. Bayangkan sahaja kita si anak. Kalau kita remaja atau dewasa, atau kurangkan sedikit umur kita, jadi kanak-kanak sebentar. Dengan minda kanak-kanak kita, bayangkan kita menghadapi situasi itu.

Sedang bermain-main pasir, datang lelaki entah dari mana, mengaku ayah. Hm, ayah? Ada juga dulu ibu bercerita tentang ayah. Tetapi kita tidak pernah faham apa itu ayah, tidak pernah faham.

Belum pun selesai misteri ayah, ayah minta pula ingin menyembelih. Minta ingin mengerat leher kita hingga putus beberapa urat utama hingga darah berpancutan bersemburan dengan pisau yang tajam,hanya kerana dia disuruh.

Mampu kita menerima? Entah berdepan pun kita tidak mampu.

Dan memang sebenarnya, tiada manusia biasa yang mampu. Kisah itu kisah manusia yang hebat. Memang mereka para anbiya’, tapi mereka juga manusia dengan jiwa dan perasaan. Namun jiwa dan perasaan mampu bertindak hebat dan agung, di luar kemampuan manusia biasa, kerana mereka ditarbiyyah. Sesungguhnya, mereka telah ditarbiyyah.

Si anak hanya mampu berperasaan dan berkata sedemikian, hasil tarbiyyah ibunya. Jiwanya jadi kental, perasaannya jadi agung, dan kata-katanya jadi matang. Ibunya berjaya memberi tarbiyyah yang hebat yang berimpak pada peribadinya.
*****

Saat penyembelihan yang mengerikan telah tiba. Diikatlah kedua tangan dan kaki Ismail, dibaringkanlah ia di atas lantai, lalu diambillah parang tajam yang sudah tersedia dan sambil memegang parang di tangannya, kedua mata nabi Ibrahim yang tergenang air berpindah memandang dari wajah puteranya ke parang yang mengilap di tangannya, seakan-akan pada masa itu hati beliau menjadi tempat pertarungan antara perasaan seorang ayah di satu pihak dan kewajiban seorang rasul di satu pihak yang lain. Pada akhirnya dengan memejamkan matanya, parang diletakkan pada leher Nabi Ismail dan penyembelihan di lakukan . Akan tetapi apa daya, parang yang sudah demikian tajamnya itu ternyata menjadi tumpul dileher Nabi Ismail dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan sebagaimana diharapkan.

Kejadian tersebut merupakan suatu mukjizat dari Allah yang menegaskan bahwa perintah pergorbanan Ismail itu hanya suatu ujian bagi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sampai sejauh mana cinta dan taat mereka kepada Allah.


Allah menguji Nabi Ibrahim sejauh mana cintanya kepada Allah..kerana selama ini..Nabi Ibrahim terlalu sayang dan cinta akan anaknya yang telah lama ia hajati. Tanpa disedari, kasih terhadap anaknya melebihi segala-galanya. Namun, ternyata keduanya telah lulus dalam ujian yang sangat berat itu. Nabi Ibrahim telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan pergorbanan puteranya. untuk berbakti melaksanakan perintah Allah sedangkan Nabi Ismail tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam memperagakan kebaktiannya kepada Allah dan kepada orang tuanya dengan menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan

Dalam keadaan bingung dan sedih hati, karena gagal dalam usahanya menyembelih puteranya( tiba-tiba parang yang tajam menjadi tumpul), datanglah kepada Nabi Ibrahim wahyu Allah dengan firmannya:” Wahai Ibrahim! Engkau telah berhasil melaksanakan mimpimu, demikianlah Kami akan membalas orang-orang yang berbuat kebajikkan .”

Begitulah ujian Allah yang terhebat dalam sejarah cinta manusia. Sejauh manakah kita dan cinta kite terhadap Allah dapat diuji? Kadang-kala pabila melihat sekeliling, manusia sering mencintai ibu bapanya malah temannya lebih dari cintanya pada Allah! Maksiat diteruskan semata-mata menginginkan kasih sayang manusia..alangkah sedihnya andai mereka mengetahui..Allah la kecintaan kita yang hakiki..

allahualam

Advertisements

One thought on “Siapa yang Paling Kita Sayang ?

  1. Pingback: Cintaku hanya untukMu « Pena Sang 'AbirusSabil..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s